🛍️
PROMO SHOPEE HARI INI
Klik di sini untuk klaim voucher diskon & gratis ongkir!
CEK SEKARANG

Translate

Selasa, 17 Februari 2026

Mungkinkah Ini Ramadhan Terakhirku? (Cerita Fiksi Bersambung)

Dada Aris terasa sesak, seolah ada ribuan jarum yang menusuk paru-parunya. Di atas dipan kayu kontrakannya yang sempit, ia menatap kalender. Esok adalah hari pertama bulan Ramadhan. Namun, bagi Aris, Ramadhan kali ini tidak datang dengan aroma kegembiraan, melainkan dengan aroma tanah yang kian mendekat.

 Sudah tiga bulan penyakit aneh menggerogoti organ dalamnya. Tubuhnya yang dulu tegap sebagai buruh pabrik, kini menyusut drastis. Ia sebatang kara sejak kecil; ayah dan ibunya hanyalah potongan memori samar yang hilang sebelum ia sempat mengeja kata "rindu". Di kota perantauan ini, ia hanya punya kerja keras dan kesunyian.

Hari Terakhir di Pabrik

Meskipun tubuhnya limbung, Aris memaksakan diri masuk kerja di hari terakhir sebelum libur awal puasa. Di tengah deru mesin pabrik, rasa asin besi tiba-tiba memenuhi pangkal tenggorokannya. Ia berlari ke toilet, mengunci pintu, dan memuntahkan cairan kental berwarna merah pekat ke wastafel.

"Ya Allah... sedikit lagi. Izinkan hamba bertahan sedikit lagi," bisiknya sambil membasuh sisa darah di bibirnya.

Saat jam istirahat, Aris duduk melingkar bersama teman-teman karibnya. Suasana riuh dengan rencana mudik dan menu sahur pertama. Aris menatap mereka satu per satu, seolah ingin merekam wajah-wajah itu dalam ingatannya.

"Teman-teman," suara Aris parau, memotong tawa mereka. "Mungkin selama puasa nanti aku akan pergi jauh. Aku minta maaf ya kalau selama ini ada salah."

Rian, teman sebangkunya, tertawa renyah sambil menepuk bahu Aris keras. "Halah, gaya kamu Ris! Ngomongnya kok kayak orang mau mati aja."

Teman-teman yang lain ikut terbahak. Aris hanya tersenyum tipis, meski tepukan di bahunya tadi terasa seperti hantaman godam.

"Bukan begitu," sahut Aris tenang. "Aku hanya ingin pulang ke kampung halaman. Mencari tahu apakah masih ada saudara dari ayah atau ibuku yang tersisa. Aku ragu... apakah kita masih bisa bertemu lagi atau tidak nanti."

"Ah, kamu mah melankolis terus! Habis lebaran juga kita lembur bareng lagi," timpal yang lain. Aris hanya mengangguk, menyembunyikan kenyataan bahwa "pulang" yang ia maksud mungkin memiliki makna yang berbeda.

Perjalanan dalam Sunyi

Malam tarawih pertama tiba. Setelah berpamitan dengan rekan-rekan kontrakannya dengan tas ransel tua di pundak, Aris memulai perjalanannya. Ia tak tahu pasti di mana kampung halamannya, hanya bermodalkan nama sebuah desa terpencil yang pernah dibisikkan ibunya dulu.

Di tengah perjalanan menggunakan bus antar kota, serangan itu datang lagi. Aris turun di sebuah terminal kecil karena tak kuat menahan nyeri. Ia merangkak menuju sebuah masjid tua di pinggir jalan untuk beristirahat. Di emperan masjid yang dingin, kesadarannya perlahan memudar setelah lagi-lagi ia memuntahkan darah yang membasahi kemejanya.

Dunia menjadi hitam.


Antara Hidup dan Mati

Hal pertama yang tertangkap oleh indranya adalah bau karbol yang menyengat. Aris membuka matanya sedikit, melihat botol infus yang tergantung goyah di samping tempat tidurnya. Ada suara mesin yang berpip-pip teratur. Ia berada di ruang ICU. Namun, kesadaran itu hanya bertahan beberapa detik sebelum kegelapan kembali menelannya.

Waktu seolah berhenti mengalir bagi Aris.

Hingga suatu pagi, ia merasakan hangat sinar matahari menyentuh kulit wajahnya. Ia tidak lagi mendengar suara mesin rumah sakit. Aris membuka mata sepenuhnya. Ia berada di sebuah kamar dengan dinding gedek (anyaman bambu). Cahaya matahari masuk melalui celah-celah dinding, menciptakan garis-garis emas di udara yang berdebu.

Ia terbaring di atas amben kayu sederhana beralaskan kasur tipis.

"Alhamdulillah... kamu sudah sadar, Nak," sebuah suara lembut menyapa.

Aris menoleh perlahan. Seorang wanita tua dengan kerudung sederhana tersenyum tulus di sampingnya.

"Saya... di mana? Ibu siapa?" tanya Aris dengan suara yang hampir habis.

"Kamu di rumah Ibu, Nak. Saya Bu Eka, istri Bapak Kepala Kampung di sini. Warga menemukanmu pingsan di masjid sebulan yang lalu," jelas wanita itu sambil mengusap kening Aris.

Aris terperanjat. "Sebulan? Jadi... puasa sudah...?"

"Sudah hampir habis, Nak. Kamu koma selama sebulan di rumah sakit kota. Pihak rumah sakit bilang mereka sudah angkat tangan karena penyakitmu berat. Akhirnya, Bapak membawamu pulang ke sini. Kami tidak tega membiarkanmu di sana tanpa keluarga."

Bu Eka menjelaskan bahwa selama di rumah, Aris dirawat secara tradisional. Suaminya, sang Kepala Kampung, memberikan ramuan herbal turun-temurun dan doa yang tak putus-putus. Ajaibnya, perlahan tubuh Aris mulai menerima asupan meski dalam keadaan tak sadar.

iklan : Mau beli baju ukuran BigSize klik disini 

Takdir yang Tak Terduga

Selama masa pemulihan, Aris baru mengetahui bahwa desa tempat ia terdampar adalah desa yang selama ini ia cari—desa asal almarhum ayahnya. Tuhan ternyata tidak membiarkannya mati di jalanan, melainkan menuntunnya "pulang" dengan cara yang tak masuk akal.

Di rumah itu, ada seorang gadis bernama Sarah, putri tunggal Pak Kepala Kampung. Sarah-lah yang dengan telaten membantu ibunya merawat Aris, mengganti kompres, dan menyiapkan ramuan.

Suatu sore, Pak Kepala Kampung duduk di samping amben Aris. "Nak Aris, kampung ini butuh sosok pemuda yang jujur dan punya tekad seperti kamu. Banyak pemuda di sini, tapi Sarah tidak ada yang cocok. Sejak melihatmu berjuang melawan sakit, Sarah menaruh hati padamu."

Aris tertegun. Ia yang merasa hidupnya tinggal menghitung hari, kini justru ditawari masa depan.

"Tapi saya hanya orang sakit, Pak," bisik Aris.

"Sakitmu adalah cara Allah membersihkanmu, Nak. Sekarang kamu sudah sembuh. Mau kah kamu menjadi bagian dari keluarga kami? Menjadi pendamping Sarah dan membantuku menjaga kampung ini?"

Air mata Aris luruh. Ramadhan yang ia kira akan menjadi akhir dari segalanya, justru menjadi babak baru yang paling indah. Di bawah atap rumah bambu itu, ia menemukan apa yang selama ini hilang dari hidupnya: keluarga, rumah, dan cinta.

Mungkinkah ini Ramadhan terakhirnya sebagai orang asing? Ya. Karena mulai hari ini, Aris tidak akan pernah sendirian lagi.

Bersambung ..... 

nantikan part 2 

Panduan Lengkap Cara Beli Domain Murah di Exabytes Indonesia untuk Pemula

Punya nama domain sendiri adalah langkah awal paling penting kalau kamu mau membangun personal brand , toko online, atau blog profesional. D...