🛍️
PROMO SHOPEE HARI INI
Klik di sini untuk klaim voucher diskon & gratis ongkir!
CEK SEKARANG

Translate

Selasa, 01 September 2026

Panduan Lengkap Cara Beli Domain Murah di Exabytes Indonesia untuk Pemula

Punya nama domain sendiri adalah langkah awal paling penting kalau kamu mau membangun personal brand, toko online, atau blog profesional. Dengan domain milik sendiri (seperti .com, .id, atau .co.id), blog kamu bakal kelihatan jauh lebih profesional dan tepercaya dibanding masih memakai subdomain gratisan.

Nah, salah satu penyedia domain dan hosting terpopuler serta terpercaya di Indonesia adalah Exabytes. Di artikel kali ini, saya akan bagikan panduan langkah demi langkah cara membeli domain di Exabytes dengan mudah, cepat, dan pastinya banyak promo hemat!

Mengapa Memilih Exabytes?

Sebelum masuk ke tutorialnya, ada beberapa alasan kenapa Exabytes jadi pilihan favorit banyak pemilik website di Indonesia:

  • Pilihan Ekstensi Sangat Lengkap: Tersedia mulai dari .com, .id, .net, .org, hingga ekstensi populer lainnya.

  • Harga Bersaing & Sering Promo: Exabytes sering memberikan diskon menarik dan harga spesial untuk pembelian domain baru.

  • Proses Pendaftaran Cepat: Domain langsung aktif begitu pembayaran selesai terverifikasi.

  • Dukungan Pelanggan 24/7: Layanan bantuan siap merespons jika kamu mengalami kendala teknis.

Cara Beli Domain di Exabytes (Step-by-Step)

1. Kunjungi Halaman Promo Resmi Exabytes

Langkah pertama, buka situs resmi Exabytes untuk melihat daftar domain dan promo terbaru yang sedang berlangsung.

👉 Klik di Sini untuk Mengakses Halaman Promo Spesial Exabytes

2. Cek Ketersediaan Nama Domain

  1. Setelah masuk ke halaman Exabytes, cari kolom Cari Domain / Search Domain.

  2. Ketikkan nama domain yang kamu inginkan (contoh: namasaya.com atau tokomu.id).

  3. Klik tombol Cari atau Search.

Tips: Jika nama domain yang kamu cari sudah diambil orang lain, coba gunakan variasi nama lain atau pilih ekstensi alternatif seperti .id atau .net.

3. Tambahkan ke Keranjang Belanja

  1. Jika status domain masih Tersedia (Available), klik tombol Tambah ke Keranjang (Add to Cart).

  2. Pilih durasi pendaftaran yang kamu inginkan (misalnya 1 tahun atau 2 tahun).

  3. Klik tombol Lanjut ke Pembayaran atau Checkout.

4. Konfigurasi Domain & Fitur Tambahan

Di halaman konfigurasi, kamu bisa menambahkan beberapa fitur pendukung:

  • DNS Management: Aktifkan opsi ini (gratis) agar kamu bisa menghubungkan domain ke Blogger/WordPress dengan mudah.

  • ID Protection / Privacy Protection: Fitur opsional untuk menyembunyikan data pribadi dari basis data WHOIS agar terhindar dari spam.

Setelah selesai, klik Lanjutkan (Continue).

5. Buat Akun & Pilih Metode Pembayaran

  • Pengguna Baru: Isi formulir data diri seperti nama lengkap, alamat email aktif, nomor telepon, dan alamat. Pastikan email yang kamu gunakan aktif.

  • Pengguna Lama: Cukup Login dengan akun Exabytes milikmu.

  • Metode Pembayaran: Pilih metode pembayaran yang paling nyaman (Transfer Bank/Virtual Account, QRIS, GoPay, OVO, DANA, atau Kartu Kredit).

Beri centang pada persetujuan syarat & ketentuan, lalu klik Selesaikan Pesanan (Complete Order).

6. Lakukan Pembayaran & Verifikasi Email

  1. Selesaikan pembayaran sesuai nominal invoice.

  2. Cek kotak masuk email kamu dari Exabytes, lalu klik link verifikasi kepemilikan domain yang dikirimkan. Langkah ini wajib dilakukan agar domain milikmu aktif sempurna.

Siap Amankan Domain Impianmu?

Jangan tunda lagi untuk membuat blog atau websitemu tampil lebih profesional. Mumpung lagi ada promo menarik, kamu bisa langsung cek penawaran diskon domain terbaru sekarang juga.

👉 Beli Domain Impianmu di Exabytes Sekarang (Cek Promo Terkini)

Jika ada pertanyaan atau kendala saat melakukan pembelian domain di Exabytes, jangan ragu untuk tulis di kolom komentar di bawah ya!



Minggu, 19 April 2026

APAKAH IRAN PAHLAWAN BAGI PALESTINA? SEMENTARA PEMBATAIAN SURIAH KITA LUPAKAN

Dunia digital saat ini sedang riuh. Di layar ponsel kita, narasi mengenai keberanian Iran dalam menantang Israel dan Amerika Serikat terpampang nyata melalui serangan rudal dan dukungan militer. Bagi banyak orang, khususnya di Indonesia, Iran seketika menjelma menjadi "Pahlawan Tunggal" bagi kemerdekaan Palestina. Namun, di balik tepuk tangan riuh tersebut, ada memori kelam yang seolah dipaksa hilang: Tragedi Suriah.

Antara Narasi Palestina dan Realitas Suriah

Sangat mudah bagi kita untuk terpesona pada aksi militer Iran yang terlihat "gagah" melawan Zionis. Namun, sebagai umat yang berpijak pada fakta sejarah, kita tidak boleh mengidap amnesia kolektif. Belum genap satu dekade berlalu sejak keterlibatan mendalam Iran dan proksinya dalam menyokong rezim di Suriah yang mengakibatkan ratusan ribu nyawa Muslim Sunni melayang.

Bagaimana mungkin kita menyebut sebuah kekuatan sebagai "pembela kaum tertindas" di satu negeri (Palestina), sementara di negeri tetangganya (Suriah), mereka terlibat dalam memadamkan aspirasi rakyat dan membiarkan pembantaian terjadi? Apakah darah di Palestina berbeda warnanya dengan darah di Suriah?

Pelabelan: Senjata Pembungkam Nalar

Hal yang paling menyedihkan di media sosial saat ini adalah munculnya polarisasi buta. Jika Anda mencoba bersikap kritis terhadap kebijakan Iran, atau sekadar mengingatkan tentang bahaya ideologi tertentu, Anda akan segera dihujani label negatif.

  • "Antek Zionis" atau "Antek Amerika": Label ini dilemparkan seolah-olah jika kita tidak mendukung Iran, maka otomatis kita berada di pihak penjajah.

  • "Wahabi": Istilah ini sering digunakan sebagai senjata maut untuk mendiskreditkan siapapun yang bersuara lantang menjaga akidah dan memperingatkan tentang sejarah kelam kelompok Syiah di Timur Tengah.

Pelabelan ini adalah strategi pembungkaman. Tujuannya agar tidak ada lagi diskusi yang objektif dan agar umat Islam tetap terpecah. Padahal, tidak mendukung strategi Iran bukan berarti kita senang dengan Israel atau Amerika. Kita hanya tidak ingin masuk ke dalam "lubang yang sama" dua kali.

Taqiyah Politik dan Strategi Proxy

Dukungan Iran terhadap Palestina sering kali dipandang oleh para pakar sebagai strategi untuk meraih simpati dunia Islam luas (yang mayoritas Sunni) sekaligus memperluas pengaruh (hegemoni) di Timur Tengah. Dengan membela Palestina secara terbuka, mereka mendapatkan "moral ground" yang kuat untuk menutupi jejak hitam mereka di Suriah, Irak, dan Yaman. Inilah yang disebut dengan diplomasi dua wajah, di mana isu suci Palestina digunakan sebagai tameng politik.

Menjaga Makkah dan Madinah dari Jebakan Konflik

Banyak yang menghujat Arab Saudi karena dianggap "diam". Namun, kita harus sadar bahwa di pundak mereka ada tanggung jawab menjaga Makkah dan Madinah. Jika Arab Saudi terjebak dalam emosi dan ikut dalam skenario perang yang dipicu oleh pihak lain, stabilitas pusat ibadah seluruh umat Islam di dunia itulah yang dipertaruhkan.

Sikap waspada terhadap Iran justru merupakan bentuk kecintaan kita pada stabilitas dunia Islam. Kita ingin Palestina merdeka, namun kita juga tidak ingin pusat gravitasi umat Islam (Dua Kota Suci) ikut hancur karena terjebak dalam kepentingan politik negara lain yang penuh tipu daya.

Kesimpulan: Menjadi Muslim yang Cerdas Literatur

Mendukung kemerdekaan Palestina adalah kewajiban iman. Namun, memuja pihak yang memiliki sejarah kelam terhadap sesama Muslim di wilayah lain adalah sebuah ironi.

Jangan sampai karena rasa benci kita pada Zionis, kita kehilangan akal sehat dan melupakan saudara-saudara kita yang pernah (dan masih) terzalimi di belahan bumi lain. Menjadi kritis terhadap Iran bukan berarti menjadi "antek Yahudi", melainkan menjadi Muslim yang cerdas dalam melihat peta geopolitik dan menjaga kehormatan sejarah kita sendiri.

Selasa, 17 Februari 2026

Mungkinkah Ini Ramadhan Terakhirku? (Cerita Fiksi Bersambung)

Dada Aris terasa sesak, seolah ada ribuan jarum yang menusuk paru-parunya. Di atas dipan kayu kontrakannya yang sempit, ia menatap kalender. Esok adalah hari pertama bulan Ramadhan. Namun, bagi Aris, Ramadhan kali ini tidak datang dengan aroma kegembiraan, melainkan dengan aroma tanah yang kian mendekat.

 Sudah tiga bulan penyakit aneh menggerogoti organ dalamnya. Tubuhnya yang dulu tegap sebagai buruh pabrik, kini menyusut drastis. Ia sebatang kara sejak kecil; ayah dan ibunya hanyalah potongan memori samar yang hilang sebelum ia sempat mengeja kata "rindu". Di kota perantauan ini, ia hanya punya kerja keras dan kesunyian.

Hari Terakhir di Pabrik

Meskipun tubuhnya limbung, Aris memaksakan diri masuk kerja di hari terakhir sebelum libur awal puasa. Di tengah deru mesin pabrik, rasa asin besi tiba-tiba memenuhi pangkal tenggorokannya. Ia berlari ke toilet, mengunci pintu, dan memuntahkan cairan kental berwarna merah pekat ke wastafel.

"Ya Allah... sedikit lagi. Izinkan hamba bertahan sedikit lagi," bisiknya sambil membasuh sisa darah di bibirnya.

Saat jam istirahat, Aris duduk melingkar bersama teman-teman karibnya. Suasana riuh dengan rencana mudik dan menu sahur pertama. Aris menatap mereka satu per satu, seolah ingin merekam wajah-wajah itu dalam ingatannya.

"Teman-teman," suara Aris parau, memotong tawa mereka. "Mungkin selama puasa nanti aku akan pergi jauh. Aku minta maaf ya kalau selama ini ada salah."

Rian, teman sebangkunya, tertawa renyah sambil menepuk bahu Aris keras. "Halah, gaya kamu Ris! Ngomongnya kok kayak orang mau mati aja."

Teman-teman yang lain ikut terbahak. Aris hanya tersenyum tipis, meski tepukan di bahunya tadi terasa seperti hantaman godam.

"Bukan begitu," sahut Aris tenang. "Aku hanya ingin pulang ke kampung halaman. Mencari tahu apakah masih ada saudara dari ayah atau ibuku yang tersisa. Aku ragu... apakah kita masih bisa bertemu lagi atau tidak nanti."

"Ah, kamu mah melankolis terus! Habis lebaran juga kita lembur bareng lagi," timpal yang lain. Aris hanya mengangguk, menyembunyikan kenyataan bahwa "pulang" yang ia maksud mungkin memiliki makna yang berbeda.

Perjalanan dalam Sunyi

Malam tarawih pertama tiba. Setelah berpamitan dengan rekan-rekan kontrakannya dengan tas ransel tua di pundak, Aris memulai perjalanannya. Ia tak tahu pasti di mana kampung halamannya, hanya bermodalkan nama sebuah desa terpencil yang pernah dibisikkan ibunya dulu.

Di tengah perjalanan menggunakan bus antar kota, serangan itu datang lagi. Aris turun di sebuah terminal kecil karena tak kuat menahan nyeri. Ia merangkak menuju sebuah masjid tua di pinggir jalan untuk beristirahat. Di emperan masjid yang dingin, kesadarannya perlahan memudar setelah lagi-lagi ia memuntahkan darah yang membasahi kemejanya.

Dunia menjadi hitam.


Antara Hidup dan Mati

Hal pertama yang tertangkap oleh indranya adalah bau karbol yang menyengat. Aris membuka matanya sedikit, melihat botol infus yang tergantung goyah di samping tempat tidurnya. Ada suara mesin yang berpip-pip teratur. Ia berada di ruang ICU. Namun, kesadaran itu hanya bertahan beberapa detik sebelum kegelapan kembali menelannya.

Waktu seolah berhenti mengalir bagi Aris.

Hingga suatu pagi, ia merasakan hangat sinar matahari menyentuh kulit wajahnya. Ia tidak lagi mendengar suara mesin rumah sakit. Aris membuka mata sepenuhnya. Ia berada di sebuah kamar dengan dinding gedek (anyaman bambu). Cahaya matahari masuk melalui celah-celah dinding, menciptakan garis-garis emas di udara yang berdebu.

Ia terbaring di atas amben kayu sederhana beralaskan kasur tipis.

"Alhamdulillah... kamu sudah sadar, Nak," sebuah suara lembut menyapa.

Aris menoleh perlahan. Seorang wanita tua dengan kerudung sederhana tersenyum tulus di sampingnya.

"Saya... di mana? Ibu siapa?" tanya Aris dengan suara yang hampir habis.

"Kamu di rumah Ibu, Nak. Saya Bu Eka, istri Bapak Kepala Kampung di sini. Warga menemukanmu pingsan di masjid sebulan yang lalu," jelas wanita itu sambil mengusap kening Aris.

Aris terperanjat. "Sebulan? Jadi... puasa sudah...?"

"Sudah hampir habis, Nak. Kamu koma selama sebulan di rumah sakit kota. Pihak rumah sakit bilang mereka sudah angkat tangan karena penyakitmu berat. Akhirnya, Bapak membawamu pulang ke sini. Kami tidak tega membiarkanmu di sana tanpa keluarga."

Bu Eka menjelaskan bahwa selama di rumah, Aris dirawat secara tradisional. Suaminya, sang Kepala Kampung, memberikan ramuan herbal turun-temurun dan doa yang tak putus-putus. Ajaibnya, perlahan tubuh Aris mulai menerima asupan meski dalam keadaan tak sadar.

iklan : Mau beli baju ukuran BigSize klik disini 

Takdir yang Tak Terduga

Selama masa pemulihan, Aris baru mengetahui bahwa desa tempat ia terdampar adalah desa yang selama ini ia cari—desa asal almarhum ayahnya. Tuhan ternyata tidak membiarkannya mati di jalanan, melainkan menuntunnya "pulang" dengan cara yang tak masuk akal.

Di rumah itu, ada seorang gadis bernama Sarah, putri tunggal Pak Kepala Kampung. Sarah-lah yang dengan telaten membantu ibunya merawat Aris, mengganti kompres, dan menyiapkan ramuan.

Suatu sore, Pak Kepala Kampung duduk di samping amben Aris. "Nak Aris, kampung ini butuh sosok pemuda yang jujur dan punya tekad seperti kamu. Banyak pemuda di sini, tapi Sarah tidak ada yang cocok. Sejak melihatmu berjuang melawan sakit, Sarah menaruh hati padamu."

Aris tertegun. Ia yang merasa hidupnya tinggal menghitung hari, kini justru ditawari masa depan.

"Tapi saya hanya orang sakit, Pak," bisik Aris.

"Sakitmu adalah cara Allah membersihkanmu, Nak. Sekarang kamu sudah sembuh. Mau kah kamu menjadi bagian dari keluarga kami? Menjadi pendamping Sarah dan membantuku menjaga kampung ini?"

Air mata Aris luruh. Ramadhan yang ia kira akan menjadi akhir dari segalanya, justru menjadi babak baru yang paling indah. Di bawah atap rumah bambu itu, ia menemukan apa yang selama ini hilang dari hidupnya: keluarga, rumah, dan cinta.

Mungkinkah ini Ramadhan terakhirnya sebagai orang asing? Ya. Karena mulai hari ini, Aris tidak akan pernah sendirian lagi.

Bersambung ..... 

nantikan part 2 

Minggu, 25 Januari 2026

Membangun Generasi "Smart & Syar'i":

Mengapa Agama, Moral, dan Teknologi Tak Bisa Dipisahkan?


Dunia hari ini bergerak secepat kedipan mata. Di genggaman tangan anak muda sekarang, terdapat akses tanpa batas menuju seluruh informasi di dunia. Namun, di balik kemudahan itu, kita sedang menghadapi tantangan besar: Bagaimana menjaga jati diri di tengah arus digital yang kencang?

Jawaban singkatnya bukan dengan menjauhi teknologi, melainkan dengan menyatukan tiga pilar utama: Pendidikan Agama, Moral, dan Teknologi.


1. Agama: Kompas di Tengah Badai Informasi

Tanpa kompas, seorang pelaut akan tersesat di samudra luas. Begitu juga dengan generasi muda. Pendidikan agama bukan sekadar menghafal dalil, melainkan menanamkan "rem otomatis" dalam diri.

kartun anak sedang belajar ngaji
Ilustrasi kartun anak-anak sedang belajar Alquran dan teknologi
 

Dalam Islam, prinsip kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi sangat ditekankan. Allah Subhanahu wa Ta'ala (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6:

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan)..."

Ketika teknologi menawarkan kebebasan tanpa batas—mulai dari judi online, konten negatif, hingga budaya asing yang tak sesuai—agama hadir sebagai filter. Ia menjaga moral dan perilaku agar tetap berada di koridor yang benar. Dengan pemahaman agama yang kuat, seorang pemuda tidak akan mudah terombang-ambing oleh tren yang merusak karena ia tahu bahwa setiap aktivitas digitalnya diawasi oleh Sang Pencipta.

 cari kemeja dan baju pria klik disini

2. Moral: Adab di Atas Ilmu

Ada pepatah mengatakan, "Adab dulu baru ilmu." Di era media sosial, seringkali kita melihat orang pintar tapi kehilangan moralnya; berkomentar kasar (cyberbullying), menyebarkan hoaks, atau pamer kemewahan tanpa empati.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

"Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

Pendidikan moral memastikan bahwa kemajuan intelektual anak muda dibarengi dengan etika. Teknologi hanyalah alat; di tangan orang bermoral, ia jadi manfaat. Di tangan yang salah, ia jadi bencana. Pemuda yang memiliki moralitas tinggi akan memahami bahwa jempol mereka bisa menjadi ladang pahala atau justru sumber dosa, tergantung bagaimana mereka berinteraksi di dunia maya.

3. Teknologi: Kendaraan untuk Kebaikan

Kita tidak bisa memusuhi zaman. Alih-alih menganggap teknologi sebagai ancaman, kita harus menjadikannya senjata untuk syiar. Teknologi adalah wasilah (perantara) yang bisa melipatgandakan dampak kebaikan jika digunakan dengan bijak.

Saat ini, teknologi memiliki peran vital dalam penyebaran nilai-nilai agama:

  • Dakwah Kreatif: Melalui konten video pendek, podcast, dan desain grafis yang menarik yang mampu menyentuh hati generasi sebayanya.

  • Akses Literasi: Aplikasi Al-Qur'an, kajian online, dan perpustakaan digital memudahkan anak muda belajar agama kapan saja tanpa batasan jarak.

  • Komunitas Positif: Membangun ekosistem kebaikan melalui grup diskusi dan platform edukasi yang saling menguatkan dalam ketaatan kepada Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى).


Sinergi Timbal Balik: Sebuah Simbiosis

Hubungan ketiganya adalah hubungan yang saling membutuhkan:

  1. Agama & Moral menjaga teknologi agar tidak digunakan untuk menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan atau menyebarkan kerusakan (fasad) di muka bumi.

  2. Teknologi mempercepat penyebaran Agama & Moral agar menjangkau sudut-sudut dunia yang mungkin tidak tersentuh oleh dakwah konvensional.

Sebagaimana kutipan terkenal dari Albert Einstein yang sangat relevan dengan harmoni ini: "Science without religion is lame, religion without science is blind" (Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta).

cari gamis anak dan dewasa klik disini 


Kesimpulan

Generasi muda masa depan adalah mereka yang tangannya menggenggam teknologi terbaru, namun hatinya tetap terpaut pada nilai-nilai ketuhanan. Menyiapkan generasi yang melek digital sekaligus berakhlak mulia bukan lagi pilihan, melainkan keharusan jika kita ingin melihat masa depan yang lebih cerah.

 

pemuda teknologi dan agama
Ilustrasi kartun pemuda kekinian tapi tetap cinta pada agamnya

Mari kita mulai dari diri sendiri: gunakan jempolmu untuk menyebar kebaikan, gunakan akalmu untuk menguasai teknologi, dan biarkan hatimu tetap dibimbing oleh iman kepada Allah (سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى) serta mengikuti teladan Rasulullah (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ).


Referensi untuk Pembaca:

  • Al-Qur'an Al-Karim, Surah Al-Hujurat [49]: 6 dan Surah Al-Isra [17]: 36.

  • Hadis Riwayat Ahmad dan Al-Bukhari (Al-Adab Al-Mufrad) tentang penyempurnaan akhlak.

  • Yusuf Al-Qaradawi, dalam konsep Islam dan Ilmu Pengetahuan.

     

    untuk menghilangkan jenuhmu mainkan game sederhana ini sebentar.

    SPACE DEFENDER

Selasa, 06 Januari 2026

Pernahkah Kamu Berpikir Hidup Tanpa Uang?

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana manusia hidup tanpa uang? Tidak ada dompet, tidak ada saldo rekening, tidak ada QRIS atau transfer bank. Namun faktanya, selama ribuan tahun manusia memang hidup tanpa uang, dan tetap bisa bertahan, berdagang, bahkan membangun peradaban besar.

Artikel ini akan mengajak kamu menelusuri perjalanan panjang uang:
dari masa sebelum uang ada, awal kemunculan uang di dunia, sejarah uang di Indonesia dari masa ke masa, hingga masa depan uang digital.


1. Kehidupan Manusia Sebelum Ada Uang

Sebelum uang ditemukan, manusia menggunakan sistem barter. Barter adalah pertukaran barang dengan barang atau jasa dengan jasa.

barter sebelum ada uang
Ilustrasi sistem barter

 

Contohnya:

  • Petani menukar beras dengan ikan

  • Pembuat gerabah menukar hasil kerajinan dengan gandum

  • Peternak menukar susu dengan pakaian

Masalah Sistem Barter

Walaupun terlihat sederhana, barter memiliki banyak keterbatasan:

  1. Harus ada kebutuhan yang sama
    Jika kamu punya beras tapi orang lain tidak butuh beras, transaksi gagal.

  2. Sulit menentukan nilai
    Berapa ikan yang setara dengan satu karung beras?

  3. Tidak praktis untuk perdagangan besar

  4. Sulit menyimpan kekayaan
    Barang bisa rusak atau basi.

Keterbatasan inilah yang mendorong manusia mencari alat tukar yang lebih praktis.


2. Awal Mula Uang di Dunia

Uang Barang (Commodity Money)

Sebelum uang logam, manusia menggunakan barang tertentu sebagai alat tukar, seperti:

  • Garam (Romawi)

  • Kulit kerang (Afrika & Asia)

  • Emas dan perak

  • Biji-bijian

Barang-barang ini dipilih karena langka, tahan lama, dan diterima banyak orang.

Uang Logam Pertama

Uang logam pertama diyakini muncul di Kerajaan Lydia (sekarang Turki) sekitar abad ke-7 SM, terbuat dari campuran emas dan perak (elektrum).

ilustrasi pembuatan uang logam
Ilustrasi pembuatan uang logam pertama

 

Kelebihannya:

  • Nilai lebih stabil

  • Mudah dibawa

  • Diterima luas

Uang Kertas

uang kertas
Ilustrasi uang kertas pertama kali digunakan
 

Uang kertas pertama kali digunakan di Tiongkok pada masa Dinasti Tang dan Song (abad ke-7–11 M).

Di Eropa, uang kertas baru populer sekitar abad ke-17.


3. Sejarah Uang di Indonesia dari Masa ke Masa

a. Masa Kerajaan Nusantara

Pada masa kerajaan seperti Sriwijaya dan Majapahit, digunakan:

  • Uang emas dan perak

  • Uang kepeng (koin berlubang dari Tiongkok)

    kartun uang tiongkok
    Ilustrasi uang tiongkok
    Uang kepeng sangat populer karena digunakan dalam perdagangan antarpulau.


b. Masa Penjajahan Belanda

Belanda memperkenalkan berbagai mata uang:

  • Gulden

  • Uang VOC

  • De Javasche Bank (1828)

Pada masa ini, uang mulai dikontrol oleh kekuasaan kolonial.


c. Masa Pendudukan Jepang (1942–1945)

Jepang mengeluarkan uang sendiri yang dikenal sebagai “uang Jepang”.
Akibat dicetak tanpa kontrol, terjadi hiperinflasi dan nilai uang jatuh drastis.


d. Awal Kemerdekaan Indonesia

Pada 30 Oktober 1946, Indonesia resmi menerbitkan ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai simbol kedaulatan negara.

Tanggal ini kemudian diperingati sebagai Hari Keuangan Nasional.


e. Rupiah Modern

Seiring waktu, rupiah mengalami:

  • Perubahan desain

  • Penghapusan tiga nol (redenominasi wacana)

  • Sistem keamanan tinggi

  • Digitalisasi transaksi

Uang fisik mulai berkurang perannya.


4. Menuju Masa Depan: Hidup Tanpa Uang Tunai?

Kini, kita seperti kembali ke pertanyaan awal:
apakah mungkin hidup tanpa uang?

Jawabannya: ya, tapi dalam bentuk baru.

Uang Digital

icon uang digital
Ilustrasi uang digital
 Saat ini berkembang:

  • Mobile banking

  • Dompet digital (OVO, GoPay, DANA)

  • QRIS

  • Cryptocurrency

  • Central Bank Digital Currency (CBDC)

Bank Indonesia sendiri sedang mengembangkan Digital Rupiah.

Ciri-ciri Uang Masa Depan:

  • Tidak berbentuk fisik

  • Transaksi instan

  • Tercatat secara digital

  • Lebih transparan

  • Minim uang tunai

Ironisnya, manusia modern mungkin akan hidup tanpa uang fisik, mirip seperti manusia purba — namun dengan teknologi tinggi.


Penutup

Hidup tanpa uang pernah menjadi kenyataan di masa lalu.
Kini, kita perlahan menuju masa depan di mana uang tidak lagi bisa disentuh, tetapi tetap mengendalikan kehidupan.

Dari barter, emas, kertas, hingga digital — uang terus berubah.
Namun satu hal tetap sama: uang adalah alat, bukan tujuan hidup.

SUMBER REFERENSI


1. Bank Indonesia
Judul: Sejarah Uang di Indonesia
Alamat:
https://www.bi.go.id/id/fungsi-utama/sistem-pembayaran/Pages/Sejarah-Uang.aspx

2. Bank Indonesia
Judul: Digital Rupiah (Central Bank Digital Currency)
Alamat:
https://www.bi.go.id/id/rupiah/digital-rupiah/default.aspx

3. Kementerian Keuangan Republik Indonesia
Judul: Sejarah Oeang Republik Indonesia (ORI)
Alamat:
https://www.kemenkeu.go.id/informasi-publik/publikasi/berita-utama/sejarah-ori

4. Encyclopaedia Britannica
Judul: History of Money
Alamat:
https://www.britannica.com/topic/money/History-of-money

5. World History Encyclopedia
Judul: Barter System
Alamat:
https://www.worldhistory.org/Barter/

6. Bank Indonesia
Judul: Sejarah Bank Indonesia dan De Javasche Bank
Alamat:
https://www.bi.go.id/id/tentang-bi/sejarah-bi/Pages/default.aspx

Jual Celana Sirwal 


Jumat, 02 Januari 2026

Puasa Ramadhan 2026: Jadwal, Keutamaan, Niat, dan Persiapan Lengkap

Puasa Ramadhan 2026 merupakan ibadah wajib yang kembali dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Bulan suci Ramadhan adalah waktu terbaik untuk meningkatkan iman, memperbanyak amal saleh, serta memperbaiki hubungan dengan Allah ﷻ dan sesama manusia. Pada tahun 2026, Ramadhan bertepatan dengan tahun 1447 Hijriah.

menyambut ramadhan 2026
Ilustrasi menyambut bulan suci ramadhan 2026

Artikel ini membahas secara lengkap tentang jadwal puasa Ramadhan 2026, pengertian puasa, keutamaan, niat puasa, serta persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.

Kapan Puasa Ramadhan 2026 Dimulai?

Berdasarkan perhitungan kalender Hijriah, awal Ramadhan 1447 H diperkirakan jatuh pada akhir Februari atau awal Maret 2026. Namun, penetapan resmi awal puasa Ramadhan 2026 di Indonesia tetap menunggu hasil rukyatul hilal dan sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Perbedaan awal Ramadhan dapat terjadi karena perbedaan metode penentuan, dan hal tersebut merupakan bagian dari khazanah fiqih Islam yang perlu disikapi dengan saling menghormati.

Pengertian Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan adalah ibadah menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, disertai niat karena Allah ﷻ. Puasa ini wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang baligh, berakal, dan mampu.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa.

Niat Puasa Ramadhan

Niat puasa Ramadhan dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar. 

Niat dapat dilakukan dalam hati

Keutamaan Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan memiliki banyak keutamaan yang tidak dimiliki bulan lainnya. Beberapa keutamaan tersebut antara lain:

Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Pada bulan ini, pahala amal kebaikan dilipatgandakan oleh Allah ﷻ. Pintu-pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.

Keutamaan puasa ramadhan
Ilustrasi malam di bulan ramadhan

 Selain itu, di bulan Ramadhan terdapat Lailatul Qadar, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Persiapan Menyambut Ramadhan 2026

Agar ibadah puasa Ramadhan 2026 dapat dijalani dengan maksimal, umat Islam dianjurkan melakukan persiapan sejak dini.

Persiapan iman dan ilmu dapat dilakukan dengan memperbanyak taubat, istighfar, serta mempelajari kembali fiqih puasa. Persiapan fisik meliputi menjaga kesehatan tubuh, mengatur pola makan, dan istirahat yang cukup.

Selain itu, persiapan mental dan sosial juga penting, seperti melatih kesabaran, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta menyiapkan agenda sedekah dan zakat. Dalam lingkup keluarga, Ramadhan menjadi momen tepat untuk mengajarkan anak-anak tentang puasa dan membiasakan ibadah bersama.

Hikmah Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan mengajarkan umat Islam untuk mengendalikan hawa nafsu, hidup sederhana, serta meningkatkan kepedulian sosial. Dengan merasakan lapar dan haus, seorang Muslim diharapkan lebih peka terhadap kondisi orang lain dan lebih bersyukur atas nikmat Allah ﷻ.

Selain manfaat spiritual, puasa juga memberikan manfaat kesehatan apabila dijalani dengan pola makan yang seimbang dan gaya hidup yang sehat.

Penutup

Puasa Ramadhan 2026 adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah. Dengan persiapan yang matang, bulan suci Ramadhan dapat menjadi momentum perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa dan berakhlak mulia.

Semoga kita semua dipertemukan dengan Ramadhan 1447 H dalam keadaan sehat, iman yang kuat, dan niat yang ikhlas. Aamiin.

Jumat, 26 Desember 2025

Pengaruh Tontonan Anak terhadap Perkembangan Mental dan Pola Pikir di Masa Depan

Pendahuluan

 

Anak sedang main gadget
Ilutrasi anak-anak sedang nonton pakai Hp

Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam kehidupan anak-anak. Televisi, ponsel pintar, dan internet kini menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Anak dapat dengan mudah mengakses berbagai tontonan, mulai dari kartun, film animasi, hingga video pendek di media sosial. Tanpa disadari, tontonan tersebut memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan mental, karakter, dan cara berpikir anak di masa depan.

Dampak Positif Tontonan bagi Anak

Tontonan yang tepat dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif. Konten edukatif membantu anak mengenal huruf, angka, warna, serta konsep kehidupan sosial sejak dini. Hal ini merangsang perkembangan kognitif dan meningkatkan daya pikir anak.

Selain itu, tontonan yang sarat nilai moral mampu menanamkan sikap positif seperti kejujuran, empati, dan kepedulian terhadap sesama. Anak cenderung meniru perilaku tokoh yang mereka sukai, sehingga karakter yang ditampilkan dalam tontonan akan membentuk sikap dan kebiasaan anak.

Tontonan yang berkualitas juga dapat mengembangkan imajinasi dan kreativitas. Cerita yang inspiratif mendorong anak untuk berpikir kreatif, berani berpendapat, dan mampu memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Dampak Postif Tontonan
Ilustrasi Percaya diri

 

Dampak Negatif Tontonan terhadap Perkembangan Anak

Di sisi lain, tontonan yang tidak sesuai usia dapat memberikan dampak negatif yang serius. Konten yang menampilkan kekerasan, bahasa kasar, atau perilaku menyimpang berpotensi ditiru oleh anak, karena mereka belum mampu menyaring informasi dengan baik.

Paparan layar yang berlebihan juga dapat menurunkan kemampuan konsentrasi dan membuat anak kurang sabar. Anak menjadi lebih mudah bosan, sulit fokus belajar, serta cenderung ingin segala sesuatu serba instan.

Selain itu, kecanduan tontonan digital dapat mengurangi aktivitas fisik dan interaksi sosial. Anak menjadi kurang aktif bermain di luar, jarang berkomunikasi dengan keluarga, dan berisiko mengalami gangguan emosi seperti mudah marah atau cemas.

Dampak negatif tontonan
Ilustrasi tidak percaya diri

 

Pengaruh Jangka Panjang di Masa Depan

Tontonan yang dikonsumsi anak secara terus-menerus akan membentuk pola pikir dan kepribadian mereka saat dewasa. Anak yang terbiasa menonton konten positif cenderung memiliki sikap optimis, empati yang tinggi, serta kemampuan mengendalikan emosi dengan baik. Sebaliknya, tontonan negatif tanpa pengawasan dapat memicu masalah perilaku, rendahnya kepercayaan diri, dan kesulitan dalam bersosialisasi.

Peran Orang Tua dalam Mengarahkan Tontonan Anak

Orang tua memiliki peran penting dalam mengontrol dan mengarahkan tontonan anak. Memilih konten yang sesuai usia, membatasi waktu menonton, serta mendampingi anak saat menonton merupakan langkah utama untuk mencegah dampak negatif.

Orang tua mendampingi anak nonton
Ilustrasi orang tua mendampingi anak

 Diskusi sederhana setelah menonton juga sangat bermanfaat. Dengan berdialog, orang tua dapat membantu anak memahami pesan positif dan membedakan perilaku yang baik dan tidak baik. Keseimbangan antara tontonan, aktivitas bermain, belajar, dan interaksi keluarga perlu dijaga agar perkembangan anak berjalan optimal.

Penutup

Tontonan bukan sekadar hiburan, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan mental dan pola pikir anak di masa depan. Dengan pengawasan dan pendampingan yang tepat, tontonan dapat menjadi media edukasi yang membentuk anak menjadi pribadi cerdas, berkarakter, dan berakhlak baik. Oleh karena itu, peran orang tua dan lingkungan sangat menentukan kualitas tontonan yang dikonsumsi anak sejak dini.

Selasa, 23 Desember 2025

Pergeseran Media Sosial: Dari Friendster ke ...

Media sosial ibarat tempat nongkrong digital. Dulu, Friendster adalah warung kopi favorit netizen. Semua orang mampir, saling sapa, dan tentu saja saling pamer profil. Namun waktu berjalan, tren berubah, dan Friendster perlahan ditinggalkan.

Friendster,Facebook dan Instagram
Ilustrasi perubahan Friendster ke Facebook dan Instagram

 Kini, Facebook dan Instagram mendominasi. Tapi sejarah bertanya dengan nada bercanda:
apakah keduanya akan bernasib sama seperti Friendster?

Artikel ini membahas perjalanan media sosial, perubahan perilaku pengguna, dan kemungkinan lahirnya platform yang lebih baik di masa depan—dengan bahasa ringan, edukatif, dan sedikit senyum.


Friendster: Media Sosial Legendaris yang Kini Tinggal Kenangan

 

Tampilan Friendster
Ilustrasi tampilan Friendster dengan PC jadul

Friendster menjadi pionir media sosial di awal 2000-an. Fitur utamanya:

  • Profil pribadi

  • Daftar teman

  • Testimoni

  • Kustomisasi tampilan (semakin ramai, semakin “niat”)

Namun, Friendster kalah bersaing karena:

  1. Performa lambat

  2. Kurang inovasi

  3. Tidak siap menghadapi lonjakan pengguna

Pelajarannya sederhana:

Di dunia digital, terlambat beradaptasi sama saja dengan pamit pelan-pelan.


Facebook: Dari Media Pertemanan ke Media Segala Ada

Facebook muncul membawa solusi:

  • Lebih cepat

  • Lebih stabil

  • Lebih sederhana

Facebook berkembang menjadi:

  • Media komunikasi

  • Sarana bisnis

  • Pusat komunitas

  • Sumber informasi (dan kadang hoaks 😄)

Namun tantangan Facebook saat ini antara lain:

  • Timeline dipenuhi iklan

  • Algoritma sulit ditebak

  • Isu privasi dan keamanan data

Meski begitu, Facebook bertahan karena satu hal penting: adaptasi.


Instagram: Visual, Gaya Hidup, dan Budaya Pamer yang Elegan

Instagram mengubah cara orang berkomunikasi. Kata-kata digantikan visual.
Keunggulan Instagram:

  • Fokus foto dan video

  • Story yang cepat dan interaktif

  • Cocok untuk personal branding dan UMKM

Dampak sosialnya pun menarik:

  • Makanan difoto dulu, dingin belakangan

  • Liburan terasa kurang sah tanpa unggahan

  • Senyum di feed, capek di realita

Instagram sukses, namun mulai menghadapi kejenuhan pengguna dan persaingan ketat.


Apakah Akan Ada Media Sosial yang Lebih Baik?

Media sosial lebih canggih dari Facebook dan Instagram
Ilustrasi Media Sosial yang akan datang

 

Jawabannya: sangat mungkin, bahkan hampir pasti.

Ciri media sosial masa depan:

  1. Lebih privat dan aman

  2. Fokus pada kualitas interaksi

  3. Minim kecanduan

  4. Lebih transparan soal data

Beberapa platform baru sudah mengarah ke:

  • Komunitas kecil

  • Tanpa algoritma agresif

  • Interaksi lebih bermakna

Sejarah membuktikan:
Tidak ada raja yang berkuasa selamanya di dunia teknologi.


Penutup

Pergeseran media sosial adalah cerminan perilaku manusia yang terus berubah. Friendster telah mengajarkan bahwa popularitas saja tidak cukup. Facebook dan Instagram masih berjaya, namun masa depan selalu terbuka untuk pendatang baru.

Satu hal yang pasti:
Selama manusia suka bersosialisasi dan kepo, media sosial akan terus hidup—hanya bajunya saja yang berganti.


Daftar Pustaka

  1. Boyd, D. M., & Ellison, N. B. (2007). Social Network Sites: Definition, History, and Scholarship. Journal of Computer-Mediated Communication.

  2. Kaplan, A. M., & Haenlein, M. (2010). Users of the World, Unite! The Challenges and Opportunities of Social Media. Business Horizons.

  3. Taprial, V., & Kanwar, P. (2012). Understanding Social Media. Ventus Publishing.

  4. Laporan perkembangan media sosial global dari berbagai sumber teknologi digital.

Senin, 22 Desember 2025

Tahun Baru Masehi Bukan untuk Umat Muhammad

 Pendahuluan

Setiap akhir bulan Desember, dunia kembali disibukkan dengan perayaan pergantian tahun Masehi. Kembang api, pesta, konser, dan berbagai bentuk euforia seakan menjadi tradisi tahunan yang dianggap wajar. Namun, sebagai umat Islam, penting untuk bertanya: apakah perayaan Tahun Baru Masehi memang bagian dari ajaran Islam? Apakah umat Muhammad ﷺ dianjurkan untuk ikut merayakannya?

Artikel ini akan membahas secara ringkas namun mendalam tentang sejarah tahun Masehi, siapa yang pertama kali merayakan tahun baru Masehi, serta pandangan Islam terhadap perayaan tersebut berdasarkan dalil-dalil shahih dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.


Sejarah Penanggalan Tahun Masehi

Kalender Masehi yang digunakan secara global saat ini dikenal sebagai Kalender Gregorian. Kalender ini berasal dari peradaban Romawi dan kemudian disempurnakan pada tahun 1582 oleh Paus Gregorius XIII. Dasar penanggalannya adalah peredaran matahari (solar calendar), bukan peredaran bulan sebagaimana kalender Islam (Hijriyah).

 

Pembuat Kalender Masehi Pertama
 

Awalnya, bangsa Romawi kuno menggunakan kalender pagan yang berkaitan erat dengan penyembahan dewa-dewa. Bulan Januari sendiri diambil dari nama Janus, dewa bermuka dua dalam mitologi Romawi yang melambangkan masa lalu dan masa depan. Inilah sebabnya mengapa tahun baru Masehi dimulai pada 1 Januari, bukan karena alasan ilmiah semata, melainkan akar budaya dan kepercayaan non-Islam.


Siapa yang Pertama Kali Merayakan Tahun Baru Masehi?

Perayaan Tahun Baru Masehi pertama kali dirayakan oleh bangsa Romawi pagan. Mereka menyambut pergantian tahun dengan pesta besar, ritual, minuman keras, dan pengorbanan untuk dewa-dewa mereka.

 

Perayaan Tahun Baru Masehi pertama kali

Setelah Kekaisaran Romawi memeluk agama Nasrani, tradisi ini tidak dihapus sepenuhnya, melainkan diadopsi dan dilestarikan dengan kemasan baru. Hingga hari ini, perayaan tahun baru tetap identik dengan hura-hura, pesta pora, dan aktivitas yang jauh dari nilai-nilai ketakwaan.

Artinya, secara historis, perayaan Tahun Baru Masehi bukan berasal dari Islam, dan tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, para sahabat, maupun generasi salafus shalih.


Pandangan Islam terhadap Perayaan Tahun Baru Masehi

Islam adalah agama yang sempurna dan memiliki identitas yang jelas. Allah ﷻ berfirman:

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu."
(QS. Al-Ma’idah: 3)

Dalam Islam, umat Muhammad ﷺ hanya memiliki dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian dua hari yang lebih baik dari dua hari tersebut, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha."
(HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i – shahih)


 

Hadits ini menunjukkan bahwa menjadikan hari lain sebagai perayaan rutin yang bersifat tahunan termasuk perkara yang tidak diajarkan dalam Islam.


Larangan Tasyabbuh (Menyerupai Orang Kafir)

Salah satu prinsip penting dalam Islam adalah larangan tasyabbuh, yaitu menyerupai orang kafir dalam perkara yang menjadi ciri khas mereka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka."
(HR. Abu Dawud – shahih)

Merayakan Tahun Baru Masehi dengan simbol-simbolnya, ritualnya, atau euforianya termasuk bentuk tasyabbuh, karena perayaan ini adalah ciri khas peradaban dan agama non-Islam.


Sikap yang Seharusnya Dilakukan Umat Islam

Islam tidak melarang umatnya mengetahui pergantian waktu atau menggunakan kalender Masehi untuk keperluan administratif. Namun, yang dilarang adalah merayakannya dengan niat ibadah, tradisi, atau euforia sebagaimana kaum non-Muslim.

Sikap yang benar bagi seorang Muslim adalah:

  • Menjaga aqidah dan identitas Islam

  • Tidak ikut merayakan atau mengucapkan selamat Tahun Baru Masehi

  • Mengisi waktu dengan muhasabah diri, taubat, dan amal shalih

  • Menghidupkan sunnah, bukan tradisi yang tidak dicontohkan

Allah ﷻ berfirman:

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya."
(QS. Al-Isra’: 36)


Penutup

Dari penjelasan sejarah dan dalil-dalil shahih di atas, jelas bahwa Tahun Baru Masehi bukan untuk umat Muhammad ﷺ. Ia berasal dari tradisi pagan dan Nasrani, tidak memiliki dasar dalam Islam, serta berpotensi menjerumuskan umat kepada tasyabbuh dan kelalaian.

Sebagai Muslim, sudah seharusnya kita bangga dengan identitas Islam, mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah, serta menjauhkan diri dari perayaan yang tidak diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

Semoga Allah ﷻ menjaga kita dalam istiqamah dan mematikan kita dalam keadaan berpegang teguh pada sunnah Nabi Muhammad ﷺ.

Wallahu a’lam bish-shawab.

DAFTAR PUSTAKA


1. Al-Qur’anul Karim. Kementerian Agama Republik Indonesia.
https://quran.kemenag.go.id

2. Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistani.
Sunan Abi Dawud. Hadits no. 1134 dan 4031.
Dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani رحمه الله.

3. An-Nasa’i, Ahmad bin Syu’aib.
Sunan An-Nasa’i. Hadits no. 1556.

4. Al-Albani, Muhammad Nashiruddin.
Shahih Sunan Abi Dawud.
Maktabah Al-Ma’arif, Riyadh.

5. Ibnu Taimiyah, Taqiyyuddin Ahmad.
Iqtidha’ Ash-Shirath Al-Mustaqim li Mukhalafati Ash-habil Jahim.
Dar ‘Alam Al-Kutub.

6. Ibnu Baz, Abdul Aziz bin Abdullah.
Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah.
Riyadh: Dar Al-Qasim.

7. Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan.
Fatawa Al-A’yad wal Ihtifalat.
Riyadh.

8. Encyclopaedia Britannica.
Gregorian Calendar.
https://www.britannica.com/science/Gregorian-calendar

9. Catholic Encyclopedia.
Pope Gregory XIII.
https://www.newadvent.org/cathen/07024a.htm

10. History.com Editors.
Why Do We Celebrate New Year’s Day on January 1st?
https://www.history.com/topics/new-years/new-years-day

11. BBC History.
Roman Calendar and Festivals.
https://www.bbc.co.uk/history/ancient/romans/roman_calendar.shtml

12. National Geographic Society.
Festivals and Rituals of Ancient Rome.
https://www.nationalgeographic.com/history 

Panduan Lengkap Cara Beli Domain Murah di Exabytes Indonesia untuk Pemula

Punya nama domain sendiri adalah langkah awal paling penting kalau kamu mau membangun personal brand , toko online, atau blog profesional. D...